HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Geothermal DARATEI : Apa yang Salah?


Br. Pio Hayon, SVD
Biarawan dan Staf Dosen STPM Santa Ursula Ende

Catatan Awal

Proyek Geothermal DARATEI di Mataloko, yang dimulai pada awal 2000, seharusnya menjadi tonggak dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Dengan potensi cadangan geothermal mencapai 29.000 MW, proyek ini diharapkan dapat menyediakan pasokan listrik berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Namun, antara 2001 hingga 2021, lebih dari 40 sumur bor yang dieksplorasi tidak menghasilkan listrik signifikan, dengan investasi miliaran rupiah yang sia-sia.

Dampak negatifnya semakin jelas, terutama setelah proyek diaktifkan kembali pada 2022, ketika masyarakat lokal melaporkan pencemaran sumber air dan penurunan kualitas tanah pertanian. Meskipun ada harapan untuk perbaikan, tantangan besar dan dampak yang dirasakan masyarakat tetap menjadi perhatian serius. Dengan kondisi ini, harapan akan keberhasilan proyek Geothermal DARATEI tampak semakin samar, menimbulkan pertanyaan mendalam tentang kebijakan energi pemerintah.

Gagalnya Eksplorasi dan Produksi

Sejak dimulainya proyek Geothermal DARATEI, lebih dari 40 sumur bor telah dieksplorasi dalam rentang waktu dua dekade. Berdasarkan laporan dari Badan Geologi, dari total sumur yang dieksplorasi, hanya 5% yang menunjukkan potensi produksi yang layak. Hasil eksplorasi menunjukkan bahwa mayoritas sumur tidak menemukan reservoir geothermal yang dapat dimanfaatkan secara komersial, dengan total kapasitas yang diharapkan tidak terwujud. Hal ini mencerminkan kurangnya studi awal yang mendalam dan ketidakakuratan dalam perencanaan eksplorasi. Investasi yang dikeluarkan untuk proyek ini mencapai sekitar 1,5 triliun rupiah. Dengan biaya yang begitu besar dan hasil yang nihil, kerugian finansial ini sangat signifikan. Data menunjukkan bahwa lebih dari 80% dari anggaran yang dialokasikan habis untuk biaya eksplorasi, pengembangan infrastruktur, dan biaya operasional tanpa menghasilkan listrik yang dapat dijual. Kegagalan ini tidak hanya merugikan investor dan pemerintah, tetapi terlebih juga berdampak pada masyarakat yang diharapkan mendapat manfaat dari proyek ini.

Proyek yang gagal ini tidak hanya berdampak finansial, tetapi juga memiliki konsekuensi serius bagi lingkungan sekitar. Kerusakan lahan pertanian telah dilaporkan oleh petani lokal bahwa lahan pertanian terpengaruh oleh pencemaran dan penggunaan air tanah yang berlebihan. Selain itu, ekosistem lokal mengalami penurunan kualitas, dengan kehilangan keanekaragaman hayati yang signifikan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dampak lingkungan yang ditimbulkan dapat memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan, jika pemulihan itu memungkinkan. Secara keseluruhan, kegagalan eksplorasi dan produksi proyek Geothermal DARATEI menunjukkan bagaimana ketidakcukupan dalam perencanaan dan pelaksanaan dapat mengakibatkan kerugian besar baik secara finansial maupun ekologis.

Analisis Kebijakan Pemerintah

Proyek Geothermal DARATEI mengalami kegagalan yang signifikan disebabkan oleh ketidakcukupan studi kelayakan yang dilakukan sebelum proyek dimulai. Laporan dari Badan Geologi menunjukkan bahwa analisis geologis dan hidrogeologis yang mendasari keputusan eksplorasi tidak cukup mendalam, dengan hanya 3 dari 10 lokasi yang memiliki data geotermal valid. Ketidakakuratan data ini menyebabkan keputusan yang salah dan investasi yang sia-sia. Selain itu, studi kelayakan yang tidak melibatkan partisipasi masyarakat lokal mengurangi pemahaman tentang potensi dan risiko yang ada. Kurangnya pengawasan dan akuntabilitas juga menjadi faktor penting dalam kegagalan proyek ini. Selama periode eksplorasi, tidak ada evaluasi berkala untuk menilai kemajuan dan efektivitas proyek. Transparansi yang rendah dalam pengelolaan anggaran membuat tidak ada mekanisme yang memadai untuk memastikan penggunaan dana yang efektif. Sistem regulasi yang ada juga tidak cukup kuat untuk melindungi kepentingan masyarakat, yang tidak mendapatkan informasi yang memadai tentang dampak lingkungan dan sosial dari proyek ini. Survei menunjukkan bahwa lebih dari 70% responden merasa suara mereka tidak didengar dalam proses pengambilan keputusan.

Awalnya, masyarakat memiliki harapan besar terhadap proyek ini untuk menyediakan pasokan listrik yang andal dan berkelanjutan. Namun, setelah dua dekade tanpa hasil yang signifikan, ketidakpuasan publik mulai meningkat. Janji pemerintah untuk menyediakan energi bersih dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil tidak terpenuhi, menghasilkan rasa frustrasi di kalangan masyarakat yang bergantung pada pasokan energi. Kegagalan proyek Geothermal DARATEI juga menimbulkan skeptisisme dan ketidakpercayaan terhadap kebijakan energi terbarukan pemerintah. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap inisiatif energi terbarukan turun sebesar 30% antara tahun 2020 dan 2022. Banyak warga merasa bahwa kepentingan korporasi lebih diutamakan daripada kesejahteraan masyarakat.

Secara keseluruhan, janji otonomi energi yang tak terwujud ini menyoroti pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan keterlibatan masyarakat dalam setiap proyek energi. Agar harapan masyarakat dapat terpenuhi dan kepercayaan terhadap kebijakan energi dapat dipulihkan, diperlukan perencanaan dan pelaksanaan yang lebih baik di masa depan.

Melihat Masa Depan

Dibalik gagalnya proyek Geothermal DARATEI sebenarnya mau menekankan pentingnya pendekatan berbasis data dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek energi. Analisis mendalam dan studi kelayakan yang komprehensif merupakan langkah awal yang vital untuk memastikan keputusan yang diambil didasarkan pada informasi yang valid dan akurat. Tanpa data yang cukup, seperti analisis geologis dan hidrogeologis yang tepat, proyek dapat menghadapi kesalahan dalam menentukan potensi sumber daya. 

Menurut studi oleh International Renewable Energy Agency (IRENA), proyek energi terbarukan yang didukung oleh analisis data yang kuat memiliki kemungkinan 40% lebih besar untuk berhasil dibandingkan yang tidak. Oleh karena itu, sangat penting bagi pemerintah dan pengembang untuk melakukan studi kelayakan yang menyeluruh sebelum memulai proyek, guna mengurangi risiko finansial dan lingkungan.

Untuk memulihkan kepercayaan masyarakat dan memastikan keberhasilan proyek energi di masa depan, beberapa langkah perbaikan diperlukan: a) Evaluasi Menyeluruh: Melakukan evaluasi mendalam terhadap proyek yang sudah berjalan, termasuk analisis dampak lingkungan dan sosial, dengan melibatkan partisipasi masyarakat lokal untuk mendengar pandangan dan kekhawatiran mereka; b) Pengawasan yang Ketat: Menerapkan mekanisme pengawasan yang lebih ketat untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan proyek, termasuk audit independen dan laporan berkala tentang kemajuan; c) Reformasi Kebijakan: Memperkuat kebijakan energi terbarukan dengan mempertimbangkan umpan balik dari masyarakat, sehingga kebijakan yang inklusif dan transparan dapat membangun kepercayaan dan dukungan; d) Investasi dengan Riset dan Teknologi: Mengalokasikan anggaran untuk penelitian dan pengembangan teknologi energi terbarukan yang lebih efisien, guna membantu mengidentifikasi dan mengembangkan sumber daya yang lebih berpotensi dan berkelanjutan.

Dengan melaksanakan langkah-langkah ini, pemerintah dan pemangku kepentingan dapat memperbaiki kesalahan masa lalu, meningkatkan keberhasilan proyek energi di masa depan, serta memenuhi harapan masyarakat akan pasokan energi yang andal dan berkelanjutan.***

Editor : (NP/Efrid Bata)

Posting Komentar
Tutup Iklan